Labels

Ajaib (105) Akhir Zaman (12) Akuntansi (1) Alam (344) Aneh (896) Anime (19) Asal Usul (175) Cerita (73) Cewek (73) Cowok (37) Design (143) Download (7) Ekonomi (28) Fakta (2345) Fenomena (80) fotografi (74) Games (4) Geografi (53) Gila (92) GO Green (58) Hebat (669) Hewan (262) Ilusi (11) Indah (268) Indonesia (197) informasi (3209) Inspirasi (126) Kamus (2) Kecantikan (79) kesehatan (607) Langka (58) lifestyle (232) Love (3) Lucu (156) Makanan (115) Mantap (448) Menakjubkan (1400) Misteri (64) Mitos (39) Movie (1) Otomotif (59) Parfum (2) Puzzle (19) Rapture (2) Relationship (81) Renungan (27) Resensi (3) Resep (3) Science (190) Seni (93) Serba 10 (442) Sport (99) Teknologi (391) Tips (768) Travel (101) Trik (471) Unik (1072) Wallpapers (1)

Monday, October 25, 2010

Subway Terpanjang di Dunia yang Bisa Ditiru Jakarta

Proyek mass rapid transportation di Gotthard Base Tunnel di Swiss sejauh 57 kilometer.

TEMPO Interaktif, Sedrun - Batu granit setebal 1,8 meter itu akhirnya bobol. Mesin bor raksasa Sissi berhasil melubangi penghalang terakhir Gotthard Base Tunnel menjadi terowongan terpanjang di dunia.

Jakarta yang akan membangun MRT (mass rapid transportation) dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan hingga ke Kota, perlu meniru Gotthard Base Tunnel.

Butuh waktu beberapa tahun lagi sebelum kereta cepat pertama bisa melintasi terowongan Gotthard Base Tunnel sepanjang 57 kilometer, jauh di bawah puncak Pegunungan Alpen itu, namun sebuah perayaan meriah lengkap dengan kembang api digelar untuk menyambut selesainya pengeboran terowongan selama 15 tahun tersebut, Jumat pekan lalu. Delapan dari sekitar 2.500 pekerja terowongan telah meninggal sejak pembuatan terowongan kereta itu dimulai di Swiss tengah, meledakkan dan mengebor untuk menyingkirkan 13 juta meter kubik batu dalam kondisi lembap dan temperatur mencapai 30 derajat Celsius.

Luapan kegembiraan dan kebanggaan tak hanya dirasakan para pekerja yang berada 2.000 meter di bawah Pegunungan Alpen, tapi juga di seluruh Swiss. Penggalian Gotthard Base Tunnel, yang sebenarnya terdiri atas sepasang terowongan berdiameter 10 meter, merefleksikan satu motif yang menyatukan penduduk kota yang makmur dengan warga pedesaan tradisionalnya, yaitu melindungi keindahan pegunungan itu.

Terowongan yang menyedot dana US$ 10 miliar itu adalah upaya memangkas jumlah truk yang bolak-balik melintasi pegunungan indah tersebut setiap tahun, yang kini mencapai 1,2 juta truk. Penduduk Swiss melakukan pemungutan suara untuk memutuskan pembangunan terowongan itu hampir 20 tahun silam. Meski muncul kritik atas tingginya biaya, hampir US$ 1.300 untuk setiap warga, proposal itu disetujui oleh mayoritas penduduk. "Kami menanggung risiko besar ini bersama-sama," kata Menteri Transportasi Swiss Moritz Leuenberger. "Bersama-sama pula kami meraih banyak hal."

Pada 2017, terowongan kereta cepat yang menghubungkan Eropa Utara dengan tenggara itu akan merebut rekor terowongan kereta terpanjang yang saat ini dipegang terowongan Seikan, yang menghubungkan Pulau Honshu dengan Hokkaido di Jepang, sepanjang 53,8 kilometer.

"Dari segi teknis, proyek itu benar-benar mengagumkan," kata Kurosch Thuro, pakar konstruksi dari Munich Technical University. Selesainya proyek infrastruktur raksasa tersebut memang luar biasa karena, sejak awal, berbagai masalah menghadang penggalian terowongan yang menembus perut Alpen itu.

Saat awal pengeboran pada 1996, tes geologi yang dilakukan tim pakar geologi dan ahli pengeboran tak sengaja mengenai lapisan yang disebut sebagai Piora Mulde. Semburan air bercampur pasir pun memancar keluar dari lubang galian dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Ribuan meter kubik air dan pasir itu membanjiri lubang pengeboran. Piora Mulde hanyalah satu dari 90 masalah zona geologi yang harus diatasi selama pengeboran untuk menyingkirkan 23 juta ton batu itu. "Proyek tersebut penuh dengan bahaya," kata Thuro.

Untuk mengebor terowongan itu, para pekerja mengandalkan delapan mesin pengebor raksasa seberat 3.000 ton, yang bekerja simultan. Untuk mempermudah para pekerja memasuki lokasi pengeboran, sebuah saluran vertikal sepanjang 800 meter dibor menembus perut pegunungan tersebut tepat di bagian tengah terowongan.

Di beberapa zona yang batuannya amat keras, para pekerja harus membantu kerja Sissi dengan meledakkan batu itu--sebuah tindakan yang berisiko tinggi. "Tak ada yang pernah bekerja dengan material tersebut pada kedalaman seperti itu," kata Georgios Anagnostou, ahli geoteknologi dari Swiss Federal Institute of Technology di Zurich. Pada area semacam itu, para ahli terowongan terpaksa mengambil risiko, dengan menggunakan material yang lebih lunak dan memasang silinder tebal pada segmen tersebut.

Pemodelan komputer memprediksi distorsi hingga 1 meter. Di ujung terowongan, deformasinya sekitar 80 sentimeter, namun para pekerja akhirnya berhasil menstabilkan setiap bagian terowongan sehingga tak ada lagi distorsi.

Salah satu mesin bor sempat macet dan terkubur reruntuhan dari langit-langit terowongan, sehingga para pekerja harus turun tangan memindahkan batu yang memenuhi terowongan. Langit-langit harus diperkuat dengan baja dan beton. Insiden ini terjadi di beberapa lokasi pengeboran. Salah satu mesin sempat tak dapat digunakan selama enam bulan, padahal terowongan sebelahnya yang berjarak 40 meter sama sekali tak ada kendala.

Masalah zona Piora Mulde yang sempat mengganggu juga dapat diatasi. Pengeboran terowongan Gotthard Base Tunnel, beberapa ratus meter di bawah lubang pengujian yang pernah dibanjiri lumpur itu, dilakukan menembus lapisan marmer yang stabil. "Marmer adalah material terbaik dalam pengeboran terowongan ini," kata Anagnostou. "Mereka tidak perlu mengambil risiko karena telah melakukan riset."

No comments:

Post a Comment

Related Posts with Thumbnails

Entri Populer