Labels

Ajaib (105) Akhir Zaman (12) Akuntansi (1) Alam (344) Aneh (896) Anime (19) Asal Usul (175) Cerita (73) Cewek (73) Cowok (37) Design (143) Download (7) Ekonomi (27) Fakta (2346) Fenomena (80) fotografi (74) Games (4) Geografi (53) Gila (92) GO Green (58) Hebat (670) Hewan (262) Ilusi (11) Indah (268) Indonesia (196) informasi (3209) Inspirasi (126) Kamus (2) Kecantikan (79) kesehatan (607) Langka (58) lifestyle (232) Love (3) Lucu (156) Makanan (115) Mantap (448) Menakjubkan (1401) Misteri (64) Mitos (39) Movie (1) Otomotif (59) Parfum (2) Puzzle (19) Rapture (2) Relationship (81) Renungan (27) Resensi (3) Resep (3) Science (190) Seni (93) Serba 10 (443) Sport (99) Teknologi (391) Tips (768) Travel (101) Trik (471) Unik (1072) Wallpapers (1)

Tuesday, August 11, 2015

Selain Google, Alphabet Naungi Perusahaan dari A ke Z

Google melakukan sebuah restrukturisasi perusahaan besar-besaran, memecah unit-unit bisnis dan dirinya sendiri, serta membuat sebuah induk baru bernama Alphabet.

Para pendiri raksasa mesin pencari itu, Larry Page dan Sergey Brinn, pindah posisi jadi pimpinan induk baru tersebut.

Page, dalam situs perusahaan, menjelaskan bahwa Alphabet merupakan gabungan dari berbagai perusahaan, yang paling besar adalah Google. Mengingat namanya adalah Alphabet, wajar saja kemudian ada dugaan induk usaha itu akan melahirkan anak-anak berawalan A hingga Z.

Dilansir KompasTekno dari The Verge, Selasa (11/8/2015), saat ini setidaknya sudah ada sembilan perusahaan yang cocok dengan spekulasi itu. Mereka adalah unit-unit bisnis Google yang kemudian berdiri sendiri di bawah naungan Alphabet, seperti daftar berikut ini:

A - untuk Alphabet, perusahaan induk yang menaungi unit-unit lainnya.

C - Calico, unit usaha di bidang kesehatan yang fokus untuk mencari cara mendapatkan umur panjang.

C - Capital, unit usaha di bidang investasi.

F - Fiber, penyedia layanan internet cepat menggunakan kabel fiber.

G - Google, perusahaan terbesar pimpinan Sundar Pichai dengan fokus pada mesin pencari, iklan, peta, aplikasi, YouTube, dan Android.

L - Life Sciences, unit pembuat lensa kontak yang dapat megukur kadar glukosa seseorang.

N - Nest, unit yang menangani teknologi smart home.

V - Ventures, unit yang menangani masalah investasi.

X - X Lab, laboratorium tempat mereka menghasilkan teknologi eksperimental seperti Wing, drone pengiriman barang.

Dengan demikian, ada dua perusahaan yang mengisi alfabet C. Sementara itu, masih ada 17 huruf lain, seperti B, D, E, I, hingga Z, yang belum terisi dan tidak diketahui akan diisi apa oleh Alphabet.

Khusus untuk huruf B, ada kemungkinan Alphabet bakal mengisinya dengan perusahaan Boston Dynamic. Perusahaan pembuat robot ini dibeli Google pada 2013 silam dan belum jelas apakah akan tetap berada di bawah Google atau tidak.

Sebagai informasi, Page yang kini menjabat Chief Executive Officer (CEO) Alphabet mengatakan alasan restrukturisasi tersebut supaya masing-masing perusahaan dapat fokus mencari peluang baru. Sergey Brinn, rekannya mendirikan Google, menjabat sebagai President Alphabet.

Sundar Pichai naik jabatan menjadi CEO Google. Pria kelahiran Tamil Nadu, India, itu telah berkarier di Google sejak 2004 dan menempati berbagai posisi penting, salah satunya sebagai Product Chief. 


Sumber: The Verge
Editor: Reza Wahyudi

Ini Alasan Google Butuh Induk Bernama Alphabet



Dalam kurun waktu 17 tahun sejak 1998, Google banyak menciptakan inovasi yang ditasbihkan sebagai pelopor peradaban teknologi. Kini, raksasa tersebut secara mendadak mengumumkan berdirinya induk perusahaan baru bernama "Alphabet".

Langkah progresif ini tentu bukan hasil pemikiran sehari dua hari. Dalam surat pendirian Google, CEO Google (kini CEO Alphabet) Larry Page dan co-founder Google (kini Presiden Alphabet) Sergey Brinn menuliskan, "Google bukanlah perusahaan konvensional. Kami tidak ingin menjadi satu".
Untuk menjelaskan lebih detil terkait alasan Google harus punya "ibu", analis Christina Warren dan Seth Fiegermen membuat analisis yang dituangkan dalam beberapa poin penting berikut ini, sebagaimana dilaporkan Mashable dan dihimpun KompasTekno, Selasa (11/8/2015)

1. Mempertahankan kemapanan Google dan mengelola inovasi di Alphabet.
Sejak didirikan pertama kali pada 1998, silsilah Google mengakar ke berbagai lini. Dari mesin pencari, layanan berbagi video (YouTube), sistem operasi mobile (Android) penyedia akses internet (Fiber), hingga ke proyek-proyek "Internet of Things", seperti Nest dan X Lab.
Dengan beragam pengembangan tersebut, tiap unit bisnis Google tak lagi bisa dikelola dalam satu payung. Bisnis-bisnis yang sudah mapan atau tengah menuju kemapanan seperti Search, Advertising, Maps, Apps, YouTube dan Android, tentu membutuhkan "kepala" yang tahu betul memelihara kemapanan tersebut.
Karena itu, Page dan Brinn menunjuk Kepala Divisi Produk Google Sundar Pichai sebagai CEO baru Google. Dalam keterangan resmi di blog Google, Page mengatakan bahwa Pichai adalah talenta yang dibutuhkan untuk memajukan Google.
"Saya merasa sangat beruntung memiliki Sundar untuk menjalankan bisnis Google yang kami persempit. Ini juga memberi kesempatan bagi saya dan Sergey untuk melanjutkan aspirasi-aspirasi kami dengan skala yang lebih besar (melalui Alphabet)," Page menjelaskan.
Intinya, Google membutuhkan perusahaan dan CEO baru untuk tetap berinovasi di dalam ceruk dan lahan yang sudah digariskan oleh pendiri Google. Sedangkan Alphabet dibutuhkan oleh proyek-proyek berskala besar (Calico, Nest, Fiber, X Lab, Ventures, dan Capital) untuk penanganan yang lebih fokus.
"Sebagai tambahan, dengan struktur baru ini kami akan mengimplementasikan segmen laporan kuartal empat. Di mana keuangan Google akan terpisah dengan Alphabet secara keseluruhan," kata Page.

2. Mempertahankan talenta-talenta Google sebelum dibajak perusahaan lain.
Tak mudah bekerja di Google. Terlebih untuk bersaing dan menduduki posisi strategis. Jika berhasil unjuk gigi, perusahaan teknologi lain akan pasang mata dan trik untuk membajak talenta tersebut.
Uber, SoftBank dan Dropbox adalah beberapa perusahaan yang telah mencomot beberapa petinggi Google. Padahal, kehebatan pegawai Google tak lepas dari hasil didikan raksasa teknologi ini selama bertahun-tahun.
Dengan bisnis baru, Google dan Alphabet harus mengkaji ulang struktur perusahaan. Bakal ada divisi-divisi yang ditambahkan dan pimpinan-pimpinan baru yang dibutuhkan.
Artinya, berbondong-bondong pegawai Google akan menjabati posisi-posisi menjanjikan. Perusahaan lain pun akan lebih susah merayu pegawai-pegawai Google kompeten untuk "berkhianat".

3. Proses akuisisi yang lebih jelas.
Google tengah gencar mengakuisisi bisnis-bisnis bernilai miliaran dollar AS untuk membesarkan bisnisnya. Beberapa perusahaan mahal yang telah diakuisisi adalah Motorola Mobility dan Nest.

Untuk bejibun proses akuisisi tersebut, akan lebih mudah melalui Alphabet ketimbang Google. Lagi-lagi ini soal kemapanan perusahaan dan identitas "mesin pencari" Google.
Perusahaan-perusahaan yang diakuisisi Google cenderung pada satu titik ingin memisahkan diri kembali setelah beberapa periode berada di bawah naungan Google.

Perusahaan sebesar Google, dengan keunikan identitas yang dimiliki, secara sistem akan memiliki dominasi kuat untuk mengekang independensi perusahaan yang diakuisisi. Sebab, Google harus membesarkan usahanya sekaligus mempertahankan identitas "mesin pencari" yang dikenakannya.

Hal ini berbeda dengan konsep Alphabet. Induk perusahaan yang masih bayi ini akan lebih ramah dengan perusahaan akuisisi. Struktur Alphabet yang membawahi proyek-proyek dengan skala lebih besar dan luas lebih menjanjikan perusahaan-perusahaan akuisisi untuk tetap berada pada jalur independensinya.


4. Meregangkan kecemasan regulator
Selama bertahun-tahun, Google banyak bergesekan dengan pemerintah karena praktik bisnisnya. Yakni terkait kemampuan mengumpulkan informasi masyarakat dan kebijakan privasi yang diusung.

Uni Eropa beberapa kali bersitegang dengan Google. Menurut Uni Eropa, informasi seseorang dengan mudah diakses oleh orang lain dengan kurangnya pengetatan keamanan privasi Google.
Informasi masyarakat juga dituding kerap digunakan oleh Google sendiri untuk kepentingan pengembangan bisnisnya. Pemerintah tampaknya cemas jika Google menjadi jauh lebih besar dari hari ini sebagai satu entitas utuh.
Dengan kehadiran Alphabet, Page meredakan kekhawatiran tersebut. "Alphabet akan memiliki proses pengembangan yang independen di bawah naungan perusahaan kami," katanya.

Artinya, pengguna Google tak akan dilibatkan dalam pengembangan langsung Alphabet. Kebesaran Google juga belum berarti kebesaran Alphabet. Namun tetap saja, perusahaan baru dengan otak Google, kebesaran mana yang diragukan?


Sumber: Mashable
Editor: Reza Wahyudi
http://tekno.kompas.com/read/2015/08/11/12464877/Ini.Alasan.Google.Butuh.Induk.Bernama.Alphabet?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp 

Ganti Nama Jadi Alphabet, Bagaimana Nasib Google?


Reuters Salah seorang pendiri Google, Larry Page

Larry Page mundur dari posisinya sebagai Chief Executive Officer (CEO) Google dan beralih memimpin Alphabet, perusahaan baru yang mencaplok raksasa internet itu. Lalu, apa jadinya nasib Google sekarang?

Mereka masih ada, tetapi dengan sejumlah perubahan. Ya, pencaplokan tersebut merupakan bagian dari rencana restrukturisasi besar-besaran Google dan dirancang agar setiap bisnis yang ada di raksasa internet itu bisa berjalan masing-masing.

Dilansir KompasTekno dari International Business Times, Selasa (11/8/2015), restrukturisasi itu membuat unit bisnis Google menyusut dan fokus. Mereka kini menjadi perusahaan yang khusus mengurusi bisnis periklanan, mesin pencari, YouTube, dan Android.

"Google yang baru ini memang sedikit lebih ramping karena perusahaan yang tidak berkaitan langung dengan produk internet justru kami pindahkan ke Alphabet," tulis Page dalam blog resmi Google.

Dengan demikian, mesin pencari itu tidak lagi mengelola unit bisnis yang mengembangkan tema kesehatan. Tema tersebut diubah menjadi perusahaan terpisah yang berdiri di bawah naungan Alphabet.

"Alphabet itu tentang bisnis yang makmur melalui kekuatan kepemimpinan serta kemandirian. Secara umum, model bisnis kami adalah masing-masing bisnis dijalankan oleh seorang CEO yang kuat. Sementara itu, Sergey dan saya akan melayani kebutuhan mereka," ujar Page.

Sementara itu, kursi CEO Google diserahkan kepada Sundar Pichai. Pria kelahiran Tamil Nadu, India, ini memang sudah lama disiapkan untuk posisi tersebut, yaitu mulai dari kepemimpinannya di divisi Chrome, lalu di divisi Android hingga menjadi kepala produk pada Oktober lalu.

Page yang mundur dari kursi kepemimpinan Google kini menjabat sebagai CEO Alphabet. Kemudian, Brinn duduk sebagai President Alphabet.

Selain Google sebagai mesin pencari, Alphabet menjadi payung untuk unit bisnis Google X Lab yang tetap fokus menjalankan proyek-proyek eksperimental serta Wing yang membuat drone.

Kemudian, ada juga Google Ventures dan Google Capital, Nest yang menjual produk-produk smart home, Fiber yang menyediakan layanan broadband dan TV, serta Calico yang fokus mengembangkan solusi kesehatan. 


Sumber: ibtimes
Editor: Wicak Hidayat
 
http://tekno.kompas.com/read/2015/08/11/09420057/Ganti.Nama.Jadi.Alphabet.Bagaimana.Nasib.Google.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kpopwp 

Google "Dibubarkan", Berubah Jadi Alphabet


Sebuah berita mengejutkan diumumkan perusahaan internet Google pada Senin (10/8/2015) waktu setempat. Raksasa mesin pencari ini mengumumkan "pembubaran" Google dengan membuat perusahaan baru bernama Alphabet.

"Perusahaan kami (Google) masih berjalan dengan baik, tetapi kami pikir kami bisa membuatnya lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, kami membuat sebuah perusahaan baru, bernama Alphabet," kata CEO Google Larry Page dalam sebuah posting-an blog yang dikutip KompasTekno, Selasa pagi.

Alphabet akan menjadi perusahaan induk yang mencakup Google dan usaha-usaha lain yang tak terlalu terkait erat dengan bisnis utama Google.

Contoh usaha-usaha lain itu adalah riset penuaan Calico, rumah pintar Nest, dan penyedia layanan internet Fiber.

Usaha yang selama ini dikenal dengan Google Ventures, Google Capital, dan Google X, yang mencakup proyek mobil tanpa sopir, juga akan dinaungi Alphabet sebagai usaha-usaha tersendiri.

Sementara itu, Google akan menangani bisnis "tradisional", seperti mesin pencari, iklan, peta, YouTube, Android, Chrome, dan lainnya.

"Seperti yang ditulis Sergey dan saya dalam surat pendirian pada 11 tahun yang lalu, Google bukanlah perusahaan konvensional. Kami tidak ingin menjadi satu," kata Page.

Larry Page sendiri akan menjadi CEO perusahaan baru Alphabet. Sergey Brinn menjabat sebagai President didampingi Erich Schmidt sebagai Executive Chairman.

Sementara itu, Google akan dipegang oleh Sundar Pichai sebagai CEO. Pichai sebelumnya bertanggung jawab terhadap produk dan pengembangan bisnis internet Google.

"Struktur baru ini akan memungkinkan kami untuk tetap sangat fokus pada kesempatan yang luar biasa yang kita miliki dalam Google," ujar Page.

Dikutip dari Forbes, saham Google akan dikonversi menjadi saham Alphabet pada akhir 2015. Saham Alphabet akan tetap dipasarkan dengan kode yang sama, GOOG dan GOOGL. Pengumuman mengejutkan ini direspons positif oleh pasar dengan ditandai naiknya saham Google sebesar tujuh persen sejam setelah pembukaan pasar.

Editor: Reza Wahyudi
http://tekno.kompas.com/read/2015/08/11/0709504/Google.Dibubarkan.Berubah.Jadi.Alphabet?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kpopwp 
Related Posts with Thumbnails

Entri Populer