Labels

Ajaib (105) Akhir Zaman (12) Akuntansi (1) Alam (344) Aneh (896) Anime (19) Asal Usul (175) Cerita (73) Cewek (73) Cowok (37) Design (143) Download (7) Ekonomi (28) Fakta (2345) Fenomena (80) fotografi (74) Games (4) Geografi (53) Gila (92) GO Green (58) Hebat (669) Hewan (262) Ilusi (11) Indah (268) Indonesia (197) informasi (3209) Inspirasi (126) Kamus (2) Kecantikan (79) kesehatan (607) Langka (58) lifestyle (232) Love (3) Lucu (156) Makanan (115) Mantap (448) Menakjubkan (1400) Misteri (64) Mitos (39) Movie (1) Otomotif (59) Parfum (2) Puzzle (19) Rapture (2) Relationship (81) Renungan (27) Resensi (3) Resep (3) Science (190) Seni (93) Serba 10 (442) Sport (99) Teknologi (391) Tips (768) Travel (101) Trik (471) Unik (1072) Wallpapers (1)
Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Monday, October 10, 2011

[Review] BlackBerry Torch 2, Serupa Tapi Tak Sama

Jakarta - Salah satu tipe BlackBerry terbaru di tahun 2011 ini yaitu BlackBerry 9810 Torch 2 yang mempunyai kode nama Jennings.

BlackBerry yang satu ini bisa dibilang adalah penerus dari generasi Torch versi awal yaitu itu tipe 9800. Tapi tampil dengan lebih baru dan spesifikasi yang jauh lebih tinggi.

Mendarat dimeja redaksi jeruknipis.com beberapa hari yang lalu, sebuah BlackBerry 9810 Torch2 aka Jennings yang akan kami review. Seperti apa reviewnya?

Kami mendapatkan BlackBerry Bold Touch 9810 ini dalam kondisi baru (BNIB- Brand New in Box). Seperti biasa, apabila membeli sebuah BlackBerry baru, isi dalam boxnya adalah: 1 unit BlackBerry 9810, battery original tipe FS-1, polishing cloth, Handsfree, charger model kotak yang harus menggunakan kabel data ketika charging, kabel data microUSB dan beberapa buku panduan.

Kebetulan yang kami dapat ini adalah khusus untuk rilis dengan operator AT&T. Tetapi sudah dalam kondisi unlock dan bisa digunakan untuk semua operator GSM di Indonesia.

Desain dari BlackBerry Torch 2 9810 aka Jennings sebenarnya mirip dengan seri 9800 Torch yang rilis di tahun 2010. Tetapi yang menjadi perbedaan yang terlihat dari tampilan fisik adalah warna silver dengan dimensi 111 x 61.9 x 14.5 mm dan berat hanya 161 gr.

Meskipun juga tersedia dalam warna putih tetapi untuk warna putih tidak ada perbedaan fisik yang berarti dengan tipe 9800.

Masuk ke spesifikasi layar. Layar yang digunakan adalah TFT LCD capacitive touchscreen yang dapat menghasilkan 16 juta warna. Resolusinya 480 x 640 pixels dengan ukuran layar 3.2 inches.

Setelah kami test cukup menarik resolusi tampilan screennya. Jernih dan terang. Apalagi dengan dukungan OS 7. Tampilan layar menjadi terlihat lebih baru dibandingkan dengan tipe 9800.

Untuk kamera apabila dibandingkan dengan Torch 9800 tidak ada peningkatan yang signifikan. Hanya ada tambahan fitur image stabilization yang fungsinya mengcapture gambar agar tidak goyang. Tetapi untuk video recording pada tipe 9810 ini sudah support resolusi HD 720p. Hasilnya pun sangat bagus tidak patah-patah ketika di test untuk capture.

Dicoba untuk mengetest memainkan lagu-lagu MP3, suara yang dihasilkan dari handsfree bawaan cukup menghibur. Loudspeaker pun tidak kalah bagus.

Masuk ke tampilan layar. Dengan tampilan menu dari OS 7 sebenarnya dari tampilan tidak banyak berubah dengan BlackBerry OS 6.0 yang sudah ditanam di BlackBerry 9800.


Tetapi karena sudah didukung dengan prosesor 1.2Ghz, dicoba menswipe menu, masuk media, melihat pictures dan lain-lain tidak ada lag sedikitpun. Touch screen pada 9810 ini pun cukup responsif.

Keypad QWERTY yang terdapat pada Torch 9810, cukup nyaman. Apabila Anda sebelumnya pengguna tipe 9800, seharusnya tidak ada perubahaan yang signifikan apabila di gunakan mengetik email maupun chat di BBM.

Dibantu dengan fitur touch screen, membuat penggunaannya semakin nyaman. Dicoba untuk mengetik sepertinya suara cetok cetok yang sedikit agak menggangu pada tipe 9800 agak lebih diredam pada tipe 9810 ini.

Untuk spesifikasi BlackBerry Bold Touch 9810 ini:

3.2 inch TFT LCD capacitive
Prosesor 1.2Ghz,
RAM 768 – 8GB eMMC
5.0 MP camera autofocus, image stabilization
HD Recording 720p
Bluetooth
Wifi
GPS.

Kami juga coba test bridge dengan BlackBerry PlayBook. Setelah terpairing dengan BlackBerry Bridge, Ditest menggunakan bridge browser, BBM dari PlayBook berjalan dengan lancar.

Secara hardware memang lancar, tetapi kembali lagi dengan koneksi, apabila koneksi kurang bagus maka ketika browsing menggunakan bridge browser pun akan terhambat.

Baterai yang digunakan adalah tipe FS-1 berkapasitas 1270 mAh. Hasil yang didapat dalam pemakaian normal selama 2 hari ini adalah kurang lebih 9 jam, mulai dari Full hingga pemakaian mencapai 10%. Dengan penggunaan email untuk kerja, browsing, BBM, twitter dan Facebook.


[+]

Bentuknya yang mirip dengan tipe Torch 9800 bagi penggemar setia tipe 9800, pasti akan berganti ke tipe 9810
BlackBerry OS 7.0 out-of-the-box.
Prosesor 1.2 Ghz yang membuat proses lebih cepat dan tidak lag
Ukuran layar 3.2 inch TFT capacitive multitouch
RAM 768Mb didukung eMMC 8GB cukup besar dikelasnya
HD Video Recording (720p)


[-]

Bentuknya yang mirip dengan tipe sebelumnya membuat orang mungkin tidak tertarik apabila tidak menyukai tipe 9800. Secara bentuk tidak ada perubahan yang signifikan.
Kelemahan ponsel tipe slide, pada slidenya mudah oblak apabila sering digunakan.


Kesimpulan:

Tipe 9810 aka Jennings ini sebenarnya cocok bagi pengguna tipe 9800 yang ingin berganti sistem operasi tetapi tidak ingin berganti bentuk. Karena bentuk sangatlah persis dengan tipe 9800.

Tetapi sudah menggunakan prosesor 1.2Ghz dan OS 7. Tetapi ketika ingin mengetik menggunakan keypad, usahakan berhati-hati dalam men slidenya, karena lama-kelamaan akan terjadi oblak yang sebenarnya bisa diperbaiki dengan hanya mengencangkan baut pada casing. Tipe 9810 apakah menjadi pilihan BlackBerry Anda tahun ini?



Sumber: Tim jeruknipis.com

Friday, November 19, 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I - Bukan Film Anak-Anak

Dok. Warner Bros Pictures
Sulit dipercaya bahwa 9 tahun yang lalu seri ini dimulai dengan sebuah film keluarga yang ditonton banyak anak-anak.
Siapa pun yang sudah melahap habis tujuh buku Harry Potter pasti tahu bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows memiliki mood paling gelap dibanding enam buku sebelumnya. Sepertinya mood ini berhasil dipertahankan sutradara David Yates dalam adaptasi filmnya. Sepanjang film, nuansa gelap dan muram sangat terasa, mulai dari tone warna, dialog, hingga musik scoring. Sulit dipercaya bahwa sembilan tahun yang lalu seri film ini dimulai dengan sebuah film keluarga yang ditonton banyak anak-anak.

Tentunya film dibuat lebih "gelap" bukan tanpa alasan. Seri sebelumnya (Harry Potter and the Half-Blood Prince) diakhiri dengan kematian Albus Dombledore. Maka The Deathly Hallows dimulai dengan memperlihatkan kekacauan dunia sihir dan dunia muggle sepeninggal Dumbledore. Kementrian Sihir diambil alih Death Eater (alias Pelahap Maut), muggle dan penyihir "berdarah lumpur" ditangkap dan dibunuh, bahkan demi melindungi keluarganya, Hermione sampai harus menghapus dirinya dari ingatan kedua orang tuanya.

Kalau itu masih kurang "muram", di 30 menit pertama sudah ada satu tokoh yang tewas, dan satu lagi yang terluka parah. Bahkan pesta pernikahan Bill Weasley dengan Fleur Delacour pun tak berhasil menciptakan suasana suka cita di kediaman keluarga Weasley.

Dari situ, fokus film berpindah pada petualangan Harry, Ron, dan Hermione mencari dan menghancurkan horcrux. Horcrux adalah jimat berisi potongan jiwa Lord Voldemort -- total berjumlah tujuh buah -- yang jika semuanya berhasil dihancurkan, tamatlah riwayat Sang Pangeran Kegelapan. Tentunya mencari horcrux bukan hal yang mudah, karena tak ada satu pun dari mereka yang tahu apa bentuk horcrux-horcrux tersebut. Dan jika sudah berhasil ditemukan pun, tak ada yang tahu bagaimana cara menghancurkannya.
Satu lagi penanda tiga penyihir ini sudah beranjak dewasa adalah adegan ciuman yang semakin berani


Situasinya makin rumit karena kali ini tiga sekawan penyihir ini tak mendapat bantuan sama sekali dari pihak luar, bahkan dari keluarga mereka sendiri. Harry dkk terpaksa tinggal di tenda, berpindah-pindah tempat supaya tak mudah terlacak. Maklum saja, wajah Harry sudah tersebar di seluruh penjuru kota dalam selebaran bertuliskan 'Wanted'.

Masalah juga timbul saat Ron -- yang diam-diam jatuh cinta pada Hermione -- merasa cemburu dengan kedekatan Harry dan gadis pujaannya. Beban Ron di perjalanan ini memang tak ringan. Bukan saja merasa tersisih dari Harry dan Hermione yang sering menghabiskan waktu bersama, Ron juga tak pernah melepaskan pendengarannya dari siaran radio gerilya. Radio ini tak memutarkan musik, melainkan memberi informasi tentang siapa saja penyihir yang dinyatakan hilang, dan siapa saja yang terbunuh.

"Aku mendengarkan untuk memastikan nama Ginny, Fred and George, atau ibuku tak disebut," ujar Ron saat Harry memintanya mematikan radio.

Heart-breaking, isn't it?
Tapi jangan khawatir, di tengah segala kesedihan dan ketegangan film, kita masih akan dibuat tertawa dengan humor-humor khas Harry Potter. Pengocok perut paling utama tentu saja adalah Ron, yang dari dulu dikenal suka melontarkan pernyataan-pernyataan konyol. Belum lagi usahanya memikat hati Hermione yang bukan jadi romantis tapi malah mengundang tawa.

Lalu jika Anda masih membayangkan Harry dkk sebagai bocah-bocah imut siswa sekolah Hogwarts, hapuskan imej itu dari pikiran Anda. Daniel Radcliffe kini berusia 21 tahun, Rupert Grint -- pemeran Ron -- sudah pernah melakukan adegan sex di film Cherry Bomb (2009), sedangkan Emma Watson... Ah, masih perlukah saya beri tahu seperti apa rupa Emma Watson saat ini?

Satu lagi penanda tiga penyihir ini sudah beranjak dewasa adalah adegan ciuman yang semakin "berani". Bukan lagi sekadar kecupan di bibir, tapi french kiss panjang dan penuh gairah, yang menampilkan Emma Watson topless.

Jadi jelaslah sudah, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I memang bukan film anak-anak. Logikanya sih, anak-anak SD yang dulu menonton Harry Potter and the Sorcerer's Stone di tahun 2001 pun kini telah beranjak remaja.

Oh ya, kenapa ada embel-embel "Part I" pada judul film? Tidak lain karena buku terakhir dari seri Harry Potter ini memang diangkat ke dalam dua film. Mungkin terlalu banyak detail yang tak boleh terlewatkan sehingga jika semuanya dimuat ke satu film bisa-bisa durasinya jadi lima jam. Maka berakhirlah Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I pada sebuah adegan klimaks yang menampilkan Lord Voldemort. Penonton pun dibuat geregetan dan penasaran karena harus menunggu sambungan ceritanya -- Harry Potter and the Deathly Hallows: Part II -- yang baru akan dirilis Juli 2011.

http://id.omg.yahoo.com/blogs/harry-potter-and-the-deathly-hallows-part-i-bukan-film-anakanak-blog_editor-29.html

Wednesday, September 29, 2010

Media Amerika: Pembohong Nomor 1 di Dunia


Apa yang paling parah dari film Hollywood? Tentu saja kebohongannya tentang Amerika. Dari aksi heroik Rambo yang sendirian mampu menghabisi satu pasukan tempur tanpa lecet, sampai kemenangan naif Amerika di setiap film-film perangnya, termasuk perang Vietnam yang nyata-nyata membuktikan kekalahan telak mereka hampir dalam setiap pertempuran.

Belakangan, tak hanya film yang membuat masyarkat dunia sadar telah dininabobokkan oleh kebohongan Amerika. Media dan jurnalisme di sana -yang ironisnya seringkali menjadi kiblat kebebasan media- (termasuk di Indonesia) tenyata tak lebih sebagai aktor pembohong nomor satu di dunia. Contohnya pada kasus Invasi Irak. Investigasi resmi internasional menyimpulkan, Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada kabar bohong tersebut dengan maksud untuk meraih dukungan dan legalitas atas invasi ke Irak.

Banyak fakta penting lainnya yang tidak pernah diberitakan CNN, Fox News, ABC, CNBC, atau BBC. Lebih parah lagi, berita-berita yang berasal dari media tersebut juga diputar ulang oleh media televisi lokal negara-negara lain, termasuk Indonesia. Sebutlah fakta-fakta berikut ini:

  • PNAC (Project for a New American Century) menguasai pemerintah Amerika. Mereka memiliki banyak motif yang membuka pintu bagi terjadinya serangan 9/11.
  • Tentara AS tertawa sambil menari-nari mengelilingi tubuh warga sipil Irak yang tewas bersimbah darah.
  • AS menahan bocah 11 tahun di penjara Abu Ghraib. Mantan komandan AS mengatakan berdasarkan investigasi umum, terjadi penganiayaan di penjara itu.
  • Para polisi Inggris yang beroperasi di Basrah menyiksa setidaknya dua orang warga sipil hingga mati dengan menggunakan bor listrik.
  • AS mengambil keuntungan dari merebaknya perdagangan opium di Afghanistan.
  • Seorang tahanan di Guantanamo pada bulan April 2003 melaporkan kepada FBI bahwa ia dipaksa berdiri telanjang di hadapan seorang interogator wanita.
  • Virus HIV AIDS itu asal mulanya bukan dari simpanse, tapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu.
  • Fluorida yang terkandung dalam pasta gigi untuk jangka panjang membahayakan kesehatan. Tapi, selama 50 tahun lebih, pemerintah dan media AS menganjurkan fluorida sebagai sarana yang aman dan efektif untuk mencegah gigi berlubang.
  • Senjata pemusnah massal milik AS, seperti tabung uranium, jarang sekali disebutkan media Amerika, tak terkecuali dampak jangka panjangnya.

Apakah fakta-fakta tersebut diberitakan media Amerika? Jawabnya tentu saja tidak pernah. Lalu apa yang ditampilkan media di sana? Tak ayal,mereka hanya sibuk melaporkan berita-berita yang mengharumkan nama pemerintah AS sementara kebenaran yang barangkali akan mengotori citra itu disingkirkan. Apakah ini yang disebut jurnalisme? Tentu saja bukan. Ini hanyalah manipulasi citra dan pikiran.

Bagaimana tentang Indonesia? Serangkaian aksi pengeboman di Indonesia tampaknya lebih merupakan kampanye terselubung intelijen Barat dan media untuk memberi kesan bahwa Indonesia adalah negara teroris. Mereka mengobarkan kemarahan kelompok-kelompok muslim lokal dengan menyebarkan fitnah dan membuat istilah-istilah: Islam Garis keras, Islam Radikal, Islam Puritan, dan sebagainya.

Lewat riset pribadi yang mendalam dan meyakinkan, Jerry D. Gray menemukan banyak fakta mengenai media televisi korporat (terutama di Amerika Serikat). Peristiwa-peristiwa dunia yang kerap kita saksikan lewat berita televisi telah dipelintir, dimanipulasi dengan kebohongan, bahkan tipuan. Media korporat Amerika telah mengalami pergeseran dari sarana yang melaporkan berita aktual menjadi mesin propaganda yang setia mendukung presiden dan pemerintah AS, terlepas kebijakan presiden tersebut keliru maupun benar.

Dalam buku ini, Gray misalnya memaparkan kebobrokan media Amerika yang berprestasi menyelamatkan George W. Bush sehingga lepas dari pelanggaran serius atas undang-undang dan hukum internasional. Tidak pernah ada satu pun investigasi serius yang dilakukan untuk menangani perilaku Bush yang tak kenal hukum walaupun sudah banyak bukti yang memberatkannya.

Sebelum invasi ke Irak, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta (terdakwa pimpinan serangan 11 September) bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha. Pertemuan itu diduga sebagai bukti adanya kaitan antara Saddam dengan Al-Qaeda. Walaupun presiden Ceko menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, pejabat pemerintahan Bush tetap bersikeras menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan perang. Maka terjadilah perang itu.

Dua tahun kemudian, lebih dari 1.700 pasukan sekutu gugur, puluhan ribu luka-luka. Sementara itu, di pihak Irak terjadi kematian hampir 100 jiwa tiap minggunya. Meski tak ada data resmi, diperkirakan puluhan ribu jiwa telah menjadi korban dan media berita tetap bungkam.

Selain tidak memberikan laporan akurat mengenai jumlah korban, media Amerika juga tidak pernah menginformasikan tentang kerusakan alam, properti serta penderitaan rakyat Irak. Mereka hanya mempublikasikan “kejayaan” serdadu Amerika sambil mbiarkan nasib penduduk sipil yang terbunuh hampir setiap harinya. Kebanyakan warga Amerika hidup dalam ilusi bahwa perang tidak banyak menimbulkan pertumpahan darah dan menimbulkan kerusakan. Perang di mata media AS adalah perjuangan menegakkan demokrasi. Mereka agak sulit menyadari bahwa senjata penghancur, bom dan tomahawk mereka telah merenggut jutaan nyawa manusia. Kondisi yang bahkan sangat jauh dari prinsip demokrasi.

Lewat fakta-fakta yang disajikan buku ini, pembaca diajak menelusuri betapa hebatnya media Amerika memanipulasi pikiran masyarakat melalui “berita” yang yang mereka sajikan. Buku yang di Indonesia diterbitkan dan diterjemahkan oleh UFUK Press ini sangat layak dibaca oleh siap saja, khususnya pemerhati media. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang mengurangi kenyamanan membaca buku ini. Pertama, seperti saya jumpai di beberapa buku UFUK yang lain, spasi dan font yang digunakan terlalu besar dan renggang sehingga mengesankan “asal tebal”. Barangkali strategi ini menjadi cara penerbit memaksimalkan keuntungan. Kedua, buku yang ditulis Gray ini seolah terlalu bersemangat dalam penyajian data-data sehingga sistematika dan elaborasi analisisnya kurang runut dan mendalam. Ketiga, menjadi agak aneh dan terkesan asal comot ketika bagian terakhir buku ini secara utuh memasukkan prinsip 9 elemen jurnalisme dari Kovach dan Rosenstiel sebagai parameter menilai etika media. Ironisnya tanpa menyebutkan sumbernya. Pertanyannnya, apakah ini tambahan dari editor atau versi penulis aslinya? Seharusnya bahasan etika tersebut bisa diintegrasikan lebih smooth.

Media Amerika, Separah Itukah?

Di luar buku Gray, para wartawan maupun akademisi bidang jurnalistik rata-rata berkomentar buruk tentang media massa di Amerika Serikat (AS). ”Pers Amerika sedang menghadapi krisis kepercayaan dari masyarakatnya, ” tutur Tom Baxter, redaktur di The Atlanta Journal-Constitution. Hal serupa juga diungkapkan wartawan dari Associated Press, Chicago Tribune, San Francisco Chronicle, The Sacramento Bee, Chicago Sun-Times, Athens Banner Herald, Sacramento News & Review, dan The Washington Times (Masha, 2006).

Hal itu juga diakui Robert Dietz dari Committe to Protect Journalists. Bahkan ia menyebut jaringan televisi kabel CNN sebagai pabrik berita. Nada paling minor ditujukan ke jaringan televisi Fox milik Rupert Murdoch. Namun mereka mengakui, dari semua ragam media, media cetak paling bisa dipercaya.

Mengapa krisis ini bisa terjadi? Barangkali ungkapan paling lugas dikemukakan Robert W McChesney. Melalui bukunya yang berjudul The Problem of the Media: US Communication Politics in the Twenty-First Century, ia menilai bahwa pers AS memasuki fase the age of hyper commercialism sehingga jurnalisme sedang berada pada situasi krisis yang luar biasa. Berita telah menjadi komoditas dan profesionalisme wartawan berhadapan dengan kontrol perusahaan. Tentu saja hal itu karena perusahaan selalu melihat sisi keuntungan bisnis, sedangkan pers selalu melihat dari sisi kepentingan publik. Padahal, saat ini, 75 persen pendapatan perusahaan diraup dari iklan. Pers memang dalam dilema.

James T Hamilton, dalam bukunya yang berjudul All the News That’s Fit to Sell: How the Market Transforms Information into News (Semua Berita yang Layak Jual: Peran Pasar dalam Mengubah Informasi Menjadi Berita), menegaskan peran bisnis dalam jurnalistik. Judul buku itu sendiri menyindir motto The New York Times, yaitu All the News That’s Fit to Print (Semua Berita yang Layak Cetak).

Hal itu makin menegaskan tekanan kepentingan bisnis dalam pemberitaan. Karena itu Hamilton mengajukan pertanyaan, siapa sebenarnya yang membunuh berita? Melalui riset yang tekun dengan menyajikan isi koran-koran di AS sejak dulu hingga kini, ia menggambarkan perjalanan pers AS yang dari waktu ke waktu memuat berita yang sesuai tuntutan pasar. Pada akhirnya pasar yang membuat agenda setting media massa.

Jadi, masihkan kita percaya dengan media Amerika?

Data Teknis:

Judul: Dosa-Dosa Media Amerika

Penulis: Jerry D. Gray

Penyunting: Leinovar

Penerbit: Ufuk Press

Tahun terbit: 2006

Halaman:251+xxvii


http://bincangmedia.wordpress.com/2010/09/27/media-amerika-pembohong-nomor-1-di-dunia/

Related Posts with Thumbnails

Entri Populer